
Memulai suatu aktifitas yang positif tidak usah menunggu besuk, tarsuk, entar besuk... Mengapa tidak saat ini? Mengapa harus menunggu besuk? Memang Alloh menciptakan buat kita 3 (tiga) waktu, yaitu kemarin, saat ini dan besuk. Waktu kemarin, atau waktu tadi itu sudah pergi lenyap dari kita. Waktu sekarang, saat iniadalah milik kita semua. Waktu besuk kita belum tahu, hanya Alloh yang tahu rahasia waktu yang akan datang. Padahal denyut waktu berjalan terus tanpa berhenti sedetikpun. Semua yang telah berlalu menjadi kenangan. Semua yang telah terjadi menjadi file rekaman yang tersimpan baik, yang tidak pernah eror dimakan virus memori. Kitalah aktor utamanya. Kelak adegan demi adegan kita akan diputar ulang untuk dimintai pertanggungjawabannya.
Dengan demikian, waktu kita sebenarnya ya saat ini, saat kita
hadapi dengan berbagai pernik-pernik masalah keseharian. Benar sekali orang
yang mengatakan berinfaq itu ya sekarang, tidak perlu menunggu kaya. Sholat 5
(lima) waktu itu ya sesuai waktu dikumandangkan, tidak perlu menunggu nanti
sesudah pensiun biar bisa fokus. Memangnya kita pasti sampai waktu pensiun, siapa
yang menjamin? Contoh lain kalau mau meninggalkan hal-hal yang kurang
bermanfaat (laghwun) ya sekarang saatnya. Tidak perlu menunggu nanti kalau
sudah tidak ada masalah. Saudaraku, namanya hidup itu untuk menyelesaikan
masalah. Selesai satu masalah, pasti akan muncul masalah lain. Dan masalah
tidak untuk dihindari, tapi dihadapi untuk diselesaikan. Sebaik-baik kita
adalah bisa menyelesaikan masalah masing-masing, dan tidak mencari kompensasi
atai melarikan diri dari masalah dengan hal-hal yang merusak diri dengan dalih
biar jauh dari masalah. Padahal sejatinya akan menambah dan menumpuk masalah semakin
rumit dan menambah runyam keadaan saja.
Pernah penulis ketemu dengan seorang bapak dari daerah kudus yang
usianya sudah 60 tahunan cerita pengalamannya kepada saya. “Dulu saat saya
masih muda saya adalah perokok berat. Saat itu saya biasa menghabiskan 3
bungkus sehari, dan itu berlangsung sampai usia saya menginjak 45 tahunan. Setelah
usia memasuki kepala 4 itulah saya mulai merasakan nyeri yang luar biasa di
dada. Karena takut terjadi bahaya pada diri saya, saya periksakan ke dokter dan
konsultasi. Sudah saya tebak sebelumnya pasti ini akhibat merokok yang saya
alami. Pak dokterpun memberikan arahan dan saran untuk berhenti merokok. Sayapun
langsung mulai saat itu juga berhenti total dari merokok. Karena saya
dinyatakan positif terkena serangan jantung coroner, mesti masih ringan. Ringan
saja rasanya kayak gini apalagi kalau sudah parah. Setiap kali rasa nyeri
datang saya disarankaan “ngemut” bat butiran kecil dengan cara menaruh dibawah
lidah sampai habis. Padahal dalam sehari bisa 3 (tiga) kali serangan. Anda bisa
bayangkan kan bagaimana rasanya. Setiap rasa nyeri mulai datang, sekujur tubuh
berkeringat dingin, raut muka penuh peluh bercucuran. Sambil menahan nyeri di
dada, saya harus kuat dan tidak boleh menyerah. Setiap habis obat itu, harus
segera ke dokter lagi untuk konsultasi dan minta obat lagi. Keadaan ini harus
saya alami sampai puluhan bahkan belasan tahun”.
“Sampai akhirnya saat usia saya menginjak 60 an tahun itulah saya
berfikir, merenung, dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya harus begini
terus sampai ajal menjemput? Alhamdulillah Alloh memberi jalan keluar untuk
kesembuhan saya. Setelah konsultasi ke dokter dan dukungan dari keluarga,
akhirnya saya disarankan menjalani operasi bay pass bukan pasang cincin. Karena
dokter bilang kalau pasang cincin kemungkinan masih akan timbul keluhan lagi.
Waktu dan tempat operasi telah ditetapkan, dan atas pertolongan Alloh, saya
akhirnya sembuh dari serangan-serangan nyeri yang menyiksa dada. “Setiap saya
melihat anak-anak, pemuda apalagi yang sudah berusia 40 tahunan masih menjadi
perokok aktif saya ingin sekali mengingatkan mereka. Jangan sampai mengalami
sakit seperti saya dengan cara segera berhenti merokok”. Kuncinya Cuma satu,
berhenti merokok sekarang juga!!!. Dengan semangat beliau menceritakan ini
kepada saya, sampai-sampai saya bisa merasakan bagaimana perjuangan beliau
untuk sehat dan bebas dari serangan jantung.
Itulah contoh kecil bahwa untuk memulai sesuatu yang positif itu waktunya
sekarang juga. Tidak perlu menunggu jatuh sakit parah, tidak perlu menunggu kaya,
tidak perlu menunggu tua. Enyahkan jauh jauh dari kita rasa menunda-nunda waktu
untuk memulai berbuat kebaikan. Jadikan spirit ini sebagai cambuk menuju masa
depan yang lebih baik, lebih sukses dan lebih mulia.
Filosofi
Makan Bubur Yang Masih Panas
Pernahkah saudara makan bubur panas di
piring? Apa jadinya kalau kita langsung makan itu bubur dari tengah? Langsung
matang itu bibir oleh bubur itu. Begitu kira-kira. Mestinya kita memilih dari
tepi dan yang dekat dengan kita. Nah demikian halnya dengan memulai berbuat
sesuatu yang positif itu. Kita mulai dengan yang hal realistis di depan mata
kita, dan segera bisa kita berbuat dengan mudah. Sambil terus menerus melakukan
hal positif itu sampai hal yang rumit sekalipun. Dengan filosofi ini kita
menjadi merasa ringan dan mudah untuk berbuat, karena memang mudah dan tidak membebani.
Enjoy aja dan nikmati aja kayak menikmati bubur tadi. Putar-putar terus
piringnya sambil diambil buburnya sampai habis. Pasti enak, nyaman dan yang
jelas tidak kepanasan lagi. Sekian matur nuwun.
No comments:
Post a Comment
silahkan koment ya