Jamune...
Jamune yu, jamune kang...
Beras
kencure mas, marai bregas . Temulawake yu marai
singset... Mbok jamu datang, ayo ayo beli jamu...
Suara
tukang jamu keliling itu masih terdengar
di kampung saya di era 90 an, tapi seiring dengan perjalanan waktu saat ini
tidak lagi terdengar. Kemana gerangan para penjual jamu itu?
Tinggal
kenangan.
Apakah
semua beralih menjadi penjual jamu on line ya ?
Atau
sudah beralih profesi menjadi buruh pabrik ?
Eeee
mungkin sudah beramai ramai pindah berjualan jamu ke kota besar yang lebih
menjanjikan.
Mana
yang benar ?
Ribet
amat sih, emang gue pikirin !
Sebetulnya
yang mau gue angkat tu bukan mbok jamunya, terlalu berat untuk ngangkat mbok
jamu kalee. Tapi fenomena yang baru ngetren dan hot di daerah saya, yaitu
susahnya cari tenaga kerja untuk penjaga toko, apalagi tukang masak, cuci
setrika dan momong anak atau kerennya disebut tukang asisten rumah tangga. Pada
kemana nich mereka semua? Usut punya usut ternyata mereka lebih memilih menjadi
operator pabrik (Garment) yang tidak jauh dari daerah saya. Ya biarin, memang
ada yang salah? Iya, mereka nggak ada yang salah. Mereka realistis dan butuh
kerja yang lebih praktis. Tidak usah mikir berat, nggak usah nginap,bisa pulang
ke rumah tiap hari, nggak usah jauh-jauh ke kota besar tapi dapat uang.
Istilah
kerennya pabrik masuk desa kali ya. Disatu sisi dengan masuknya pabrik ke
daerah sangat membantu mengurangi pengangguran, membantu masyarakat
meningkatkan taraf pendapatan tumah tangga. Akhibat lainnya adalah meningkatnya
nilai jual lahan permukiman di daerah. Disisi yang lain ada pekerjaan rumah dan
masalah yang mengiringi itu semua.
Ambil
contoh semakin banyaknya volume pengguna jalan, namun belum diimbangi dengan
perbaikan dan perluasan jalan. Orang yang bepergian pada jam-jam sibuk
(06.00-08.00 dan 16.00-18.00) harus lebih berhati-hati di jalan.
Fenomena
kebut-kebutan di jalan pada jam-jam sibuk itu tidak bisa dihindari. Ada yang tergesa-gesa
karena mengejar waktu,(memangnya waktu berlari) karena bangun kesiangan. Ada
yang harus cepat-cepat karena sudah limit waktu masuk dan lain-lain.
Kebiasaan
tergesa-gesa tentunya tidak baik untuk dilestarikan. Rupanya sopan santun di
masjid belum diterapkan dijalan. Tanggung
jawab siapa ini ??? Ya tanggung jawab masing-masing pengguna jalan ta mas broo.
Enak aja wong yang ngendarai motor sampeyan, kok enyong yang suruh tanggung
jawab...
Kalo
nggak mau nganggung akhibatnya, ya jangan but kebutan di jalan dong mas! Lagian
kasihan pengguna jalan lannya tuh, emang lu yang buat tu jalan, kok seenaknya
di jalanan umum. Ingat-ingat itu choy...
Kecelakaan
terjadi karena ada kesempatan dan karena ada niat. We lha dalah keliru itu
bro...Kecelakaan terjadi bukan karena kita saja, tapi bisa karena pengguna
jalan lain juga. Gini kali ya.
Belum
lagi masalah knalpot pengguna sepeda motor yang sengaja
dimodifikasi dengan yang kedengaran nyaring. Hadewh, bikin esmosi dan pekak
telinga. Dijamin deh telinga kita bakal soak kalau ndengerin kendaraan
dengan knalpot yang seperti itu.
Akhir
kata,
Mari
kita bersama ciptakan kenyamanan dan keselamatan di jalan.
No comments:
Post a Comment
silahkan koment ya